 | Meleawati Rinai Hujan | Aug 3, 2007 |
Melewati rinai hujan yang makin menghunjam siang bersandar ranting kering menghisap asap bajaj menatap lapar anak jalanan
malam meringkuk di hotel menghisap cerutu cokelat bersanding perempuan binal  | SOLACE | Mar 12, '08 7:44 AM for everyone |
Sepanjang Jalan Sunyi
Setelah ujung jalan kulalui dengan terjal Kutemui aspal gelap terlentang Tak ada deru motor berkejaran Apalagi kepulan asap melayanglayang
Hari itu hujan tak mau datang Hanya kirim sedikit pesan lewat angin lengang
Meski sudah ribuan kilometer perjalanan Meski, konon, di perbatasan banyak jajanan Hanya kuburan seram senantiasa menghadang
Hampir nyaliku tertikam gelap Saat nyanyian kecil di jantung menderam dam dam
Hampir asaku tetusuk sunyi Saat kudukku berbisik lirih di ujung sepi
Dan, setelah berkilometer aku meraung di atas aspal Masih kutemukan diriku bersejajar pepohonan yang tak kukenal
Lalu, kubunyikan klakson tak henti din din Kupanggil semua bunyi yang tersembunyi Hingga kudapati sunyi menari seri
Pesan Seorang Ibu Pada Anak
Seorang ibu, yang bergelombang perutnya, duduk menatap jendela. Matanya, yang berlapis-lapis, terlempar di semak belukar, memantul ke wajah anaknya yang terdampar bersama serakan sampah di antara ilalang.
Dengan suara serak timbul tenggelam, sang ibu segera bilang pada anak semata wayangnya,
"Nak, kusediakan kau makan siang dan malam. Bahkan, kuberikan juga uang jajan yang kau inginkan. Ibu hanya pesan, jangan lupa segera semua kau habiskan. Kelak, kau juga akan dihabisi oleh makan siang dan malam saat bergentayangan bersama jajanan yang pernah kau habiskan." 
|  | Ternyata keupload juga... sori gak tahu.... |
Link: http://www.syndicates.co.nrInformasi berbagai kegiatan khusunya seni, pameran, diskusi, launching buku, pementasan teater, dan sebagainya, termasuk lowongan bagi penulis Hampir aku tak percaya Pada bisik malam menjelang fajar Pada gigil pagi melindap lembap Pada risau matahati melapang gelap
Hanya titik api menggelitik sepi mengusik perih di kelentit janji
Lalu, kusaksikan asap mengepul dari poripori pagi ia muncul membawa sengenggam isyarat dengan tatapan kuat
ia bagaikan tongkat kalijaga mungkin juga tongkat musa yang menuntunku menemui cahaya kata
hampir aku terbatu setelah cahaya kata menubuh diriku hampir aku mederu bersama serpihan kata menderak mulutku.
namun, hanya kutemui cermin tanpa pantul sebuah kisah kenangan yang tak mungkin lagi bisa timbul hanya cermin yang menyilau dulu yang berkubur di reruntuhan batugalau
Lalu, saat matapagi mulai berdiri pasti Dan bibir senja mulai beranjak Aku makin tahu di sana para burung merubung Aku pun makin paham di sana cahaya benar-benar ada. Mereka mengikuti irama mata cahaya pergi mencari pulang terlentang.
Kini, aku pun percaya pada cahaya ia tak henti pergi dan ia pulang berulang sebagaimana mata yang menutup dan menatap. Saat dadaku mendering sambil berdesir sekali Aku sudah hapal betul Itu pasti pesan rindu yang kau kirim kepadaku
Saat hatiku mendering dan berdesir berkalikali Kau pasti tak tahu Itu pesan rindu yang kukirim kepadamu  | Kitaro | Jan 21, '08 9:22 AM for everyone |
| Track 01 | | title | | artist | | | Track 02 | | title | | artist | | | Track 03 | | title | | artist | | | Track 04 | | title | | artist | | | Track 05 | | title | | artist | | | Track 06 | | title | | artist | | | Track 07 | | title | | artist | | | Track 08 | | title | | artist | | | Track 09 | | title | | artist | | | Track 10 | | title | | artist | | | Track 11 | | title | | artist | | | Track 12 | | title | | artist | | | Track 13 | | title | | artist | | | Track 14 | | title | | artist | | | Track 15 | | title | | artist | |
Hijrah gaya baru meninggalkan masa lalu kelabu mengendarai kereta api gaya baru Baru hijrah Dikejar-kejar pamong praja ayo... ayo.. timbang cintamu, cintanya, cinta mereka... apakah sudah benar-benar berbobot.. ketik namamu dan namanya, atau namanya dan namanya... Di wajah kalender itu. Setetes noda merah mekar dan menjalar menampar hari yang rabu.
Surau-surau terbakar. Seorang anak lari tunggang langgang. Menyelamatkan sebiji gandum dari lelehan air mata.
Ia cuma berpesan singkat, jangan cumbui malam yang darah.
Layu tubuhnya, akan membakar birahi yang sumsumnya menjulur tanpa selubung.
Lalu kukibarkan celanadalam "hidup celanadalam! hidup celanadalam!" pekik anak-anak berulangulang.
Terompet kemenangan pun bersahutsahutan Celanadalam berhamburan, berserakan Merayakan hari kebebasan.
| |